Unfinished Tale (Oneshoot)

0546c3466ceb3e1593234f2aa7e60d66

Title : Unfinished Tale
Author : NandaFM
Rate : PG
Main Cast : Im Yoona | Oh Sehun

Hai hai!! I’m back guys!!! Ada yang nungguin nggak sih? hehe. Maafkan author yang updatenya lama banget. Aku tahu nunggu update an ff tuh nggak enak, tahuu banget, tapi keadaan sama sekali nggak memungkinkan. Mulai dari hal2 kampus, sampe nggak ada moot buat nulis. Tapi setelah akhirnya ngumpulin niat dan kekuatan(?) jadilah FF ini. Dan maaf buat FF yang chapter lain masih belum dilanjutin, sungguh cari inspirasi itu susah banget :”)

Oh ya, FF ini juga aku upload di wattpadd aku. Namanya, Nandaratnaa. Follow yaa bagi yang punya wattpad. Happy reading, guys!

“Ah, sekarang aku yang salah! Terlalu banyak mengeluh, begitu?!”

“Berhenti berteriak, please. Aku baru pulang, dan mendengar teriakanmu itu sungguh tidak membantuku, Lee Soo Hyun.”

“Kalau aku tidak berteriak, kamu tidak akan pernah mendengarkanku!”

“Aku akan mendengarkanmu. Sekarang hentikan teriakanmu!”

God!! Tidakkah mereka sadar kalau pertengkaran mereka adalah suatu hal yang sangat memalukan dan tidak perlu diumbar dengan berteriak seperti itu. Mereka adalah orang dewasa, bukan? Orang dewasa tidak seharusnya saling beradu untuk menentukan siapa yang paling benar dengan teriakan. Tapi, apa yang bisa kukatakan? I’m just a kid afterall.

Dia adalah anakmu juga. Tidakkah kamu rasa perlu untuk sedikit memperdulikannya?” Ibuku bertanya dengan kesal.

Ya, aku adalah Dia. Seorang anak yang namanya cukup sulit untuk disebut bahkan untuk kedua orang tuanya. Dan pertanyaan barusan tidak membuatku merasa lebih baik. Karena sesungguhnya yang dimaksud dari perkataan Ibuku adalah: ‘aku sudah lelah mengurus anak seperti dia dan ingin terbebas darinya.’

Oh sungguh, saat seperti ini lah aku benar-benar membutuhkan tidurku. Yang perlu kulakukan hanyalah memejamkan mata dengan erat dan mengabaikan perkataan kedua orang tuaku yang menyakitkan. Lagipula ini bukanlah hal yang pertama kalinya. Pastinya dengan mudah aku dapat melakukannya.

###

Tepat saat dentingan jam berbunyi menandakan tengah malam aku seketika terbangun. Meskipun mataku terasa masih sangat berat, keinginanku untuk bisa keluar dari rumah dan kedua orang tuaku lebih besar dari rasa kantukku. Beberapa jam saja di luar seolah menjadi cadangan energiku agar bisa bertahan di dalam rumah.

Tanpa perlu berlama-lama kini aku sudah siap. Rambut hitamku kubiarkan tergerai di sekitar bahu. Gaun merah tanpa lengan yang kukenakan sangat pas membuatku terlihat hot but not too desperate. Dan bahkan mataku yang lebih pudar dari kebanyakan orang, dengan sapuan make-up yang tepat membuatnya lebih hidup. Aku akan dengan sukarela berdiri di depan cermin mematut diriku sepenuhnya, kalau tidak mengingat bahwa di luar sana ada hal yang lebih menyenangkan dari ini semua.

Seperti seorang pencuri profesional, aku keluar dengan memanjat jendela kamar yang tidak terlalu tinggi. Meskipun kalau aku keluar melalui pintu depan pun orang tuaku tidak akan menyadarinya, tapi sensasinya tentu akan berbeda. Dengan seperti ini aku merasa benar-benar melakukan sesuatu yang memberontak, yang orang tuaku sendiri tidak pernah membayangkannya.

###

“Yeiyyy!!!! Hoo!!” dengan menggila aku meliukkan tubuh di atas lantai dansa. High heels hitam yang membuatku pegal sudah kulepas sedari tadi. Kakiku yang telanjang bersentuhan langsung dengan lantai dansa menimbulkan sensasi tersendiri.

Aku sangatlah sadar saat ini. Tapi, come on, tidak akan ada satu orang pun yang mampu berdiam bila musik yang diputar saat ini membuatmu seolah sedang ada dalam club. Meski aku tidak pernah sekalipun kesana.

“Sedang dalam mood yang baik, huh?” tanya lelaki di sebelahku yang kini sudah kulupa siapa namanya.

Kalau pertengkaran kedua orang tuamu adalah indikasi mood yang baik, sudah pasti aku adalah gadis paling bahagia di kota ini. “Yah, begitulah,” jawabku seadanya.

“Kuperhatikan selama ini, kamu tidak pernah sekalipun ketinggalan pesta. Sedikit bebas, uh?”

“Mungkin,” jawabku asal. Saat siang hari jangankan untuk dating ke pesta, berjalan ke halaman depan rumah saja sudah tidak mungkin. Tapi, saat aku tertidur di malam hari, berpesta adalah salah satu dari sekian kesenangan yang bisa kunikmati.

“Mencoba misterius, ya?” tanyanya yang tidak menghasilkan jawaban apaun dariku. “Atau memang kamu gadis misterius seperti yang ada di novel-novel? Aku harap saja kamu bukanlah seorang vampir yang sedang menyamar menjadi gadis SMA?”

Urgh! Mengapa dia menyebalkan sekali? Terlalu banyak bicara, dan candaannya sangat jauh dari kata lucu. Apalagi baunya yang seperti lelaki tua membuatku semakin kesal.

“Yoona, kamu ikut atau tidak?” Thanks God! Teriakan nyaring dari Jessica membuatku ada alasan untuk meninggalkan Leeteuk, lelaki menyebalkan yang kini sudah kuingat namanya.

Sure.” Balasku berteriak. Dengan segera aku berlari kecil menghampiri Ariani yang sedang bersama sekumpulan anak lain mengelilingi meja.

Apa yang mereka lakukan? batinku.

“Kita sedang bermain truth or dare.” ujar Yuri seolah mampu membaca pikiranku. “Kamu mau ikut?” tawarnya.

“Pertanyaanmu salah, Yul. Harusnya kamu bertanya begini, ‘hukuman apa yang tepat bila ada yang kalah?’. Seperti tidak mengenal Yoona saja,” sambung Jessica.

“Ahahahaha!” aku hanya tertawa membalasnya. As expected, my friend, Jessica.

Dan kemudian permainan pun dimulai. Dengan lagu yang mengiringi kami bermain tidak memperdulikan lingkungan sekitar. Ditemani dengan sebuah cake cokelat yang kini tinggal setengah. Sedangkan di sekitar kami, mereka yang berdansa, asyik dengan tarian mereka. Mereka yang dating dengan pasangannya juga banyak yang lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama. Sedangkan kami semakin terlarut dengan permainan yang semakin seru.

No!” pekik Sunny, si gadis mungil berambut pixie yang ada di seberangku, berharap agar ujung botol permainan tidak berhenti menunjuk ke arahnya.Tapi kemudian kami tergelak karena pada akhirnya Sunny tidak bisa mengelak lagi.

Truth or dare?” tantang si pemimpin permainan, Jessica.

Truth,” jawab Sunny dengan ragu-ragu yang kemudian diikuti dengan sorakan dari para pemain yang lain.

Setelah kami, minus Sunny tentunya, berunding tentang pertanyaan apa yang akan diajukan, Jessica kemudian mengajukan pertanyaan yang sukses membuat Sunny tersipu malu.

“Apabila seandainya saat ini, menit dan detik ini juga, In Guk mengajakmu untuk berkencan apakah kamu akan bersedia?” tanya Jessica. Well, rupanya hubungan friend zone yang ada antara Sunny dan Seo In Guk cukup membuat teman satu sekolah mereka gemas.

Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Sunny mengangguk sebagai jawaban. Dan seketika sekeliling kami menjadi heboh. Saat ini memang hubungan mereka masih belum official, tapi setidaknya hal itu adalah awal yang bagus.

Kemudian, permainan pun kembali dimulai dengan atmosfer yang lebih bagus. Begitu juga dengan perasaanku.

Atau setidaknya perasaanku sebelum aku adalah korban selanjutnya. Ujung botol sialan itu berhenti menunjuk ke arahku disusul dengan sorakan anak-anak yang lain. Rupanya kesialanku adalah suatu hal yang menggembirakan bagi mereka semua. Sungguh teman-teman yang spesial, batinku.

Truth or dare?” tanya Jessica.

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini mereka menyerukan kata dare secara bersamaan, “Dare! Dare! Dare!” Ah, sungguh mereka ini.

Okay, aku pilih dare!” seruku yang disambut dengan sorakan puas dari teman-temanku.

“Kami ingin kamu mencium lelaki berambut hitam di sebelah sana.” Oh no. It’s not good.

“Yang sedang menggenggam gelas itu? Yang memakai jaket hitam?” tanyaku memastikan.

Yup. Sudah sana cepat. Atau kamu mau memilih untuk mundur, our very own brave princess?” tantang Ariani.

Dengan ragu kudekati lelaki yang dimaksud. He is kind a hot, but still..Hi.” Sapaku ragu. “Aku Im Yoona. Bisakah aku minta tolong?” bisikku pelan dengan tanganku yang menggenggam sapu tangan erat untuk mengurangi rasa tegangku.

Lelaki bermata coklat di depanku hanya menaikkan satu alisnya, menanyakan maksudku.

“Bisakah kau berpura-pura untuk menciumku? Tidak usah sungguhan, hanya pura-pura saja agar terlihat meyakinkan. Aku saat ini sedang bermain truth or dare dengan teman-temanku, dan aku tidak ingin terlihat seperti seorang pengecut bila menolak permintaan mereka. They wanted me to kiss you.” terangku.

“Tidakkah kamu rasa itu terlalu kasar bila kamu meminta bantuanku tanpa tahu namaku?”

“Oh. Sorry, aku hanya terlalu nervous,” jelasku. Damn my heart that can’t control its beat.

“Aku Sehun,” balasnya. “Dan apa kamu yakin hanya perlu berpura-pura, kalau aku bisa memberikan yang sebenarnya?” tanyanya.

Aku tahu bahwa saat ini Sehun sedang flirting denganku. Dan aku tidak keberatan dengan hal itu. Tidak mungkin aku menolak lelaki tampan di hadapanku yang berhasil membuatku berdebar untuk pertama kalinya sejak aku menginjakkan kaki ke pesta rutin ini.

Tetapi aku tidak bisa. Satu ciuman darinya akan menghancurkan semuanya, kebebasanku hanya akan tinggal kenangan. Karena itulah yang dikatakan seorang gadis bersayap putih di mimpiku dua tahun yang lalu.

Dua tahun yang lalu, tepat saat aku berumur tujuh belas tahun, ada yang berbeda. Seorang gadis bersayap putih, yang menyebut dirinya adalah Angel, menghampiri mimpiku. Berkata bahwa aku sudah dewasa dan berhak mendapat kebebasanku. Tapi ia hanya bisa memberiku itu saat semua keluargaku tengah terlelap. Dia bilang, ragaku bisa memisahkan diri dari tubuhku saat aku tertidur di malam hari. Aku bisa melakukan semua hal layaknya adalah manusia normal tanpa orang tuaku mengetahuinya. Dengan satu syarat, tidak ada satu orang pun yang boleh menciumku. Karena, detik saat ciuman terjadi, ragaku akan memudar bagaikan memori yang tersapu angin.

Dan aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.

Persetan dengan cap ‘pengecut’ yang melekat pada diriku. Aku tidak akan membiarkan perasaan bodoh ini membuatku kehilangan temanku, kebebasanku, semuanya.

“Tunggu,” tahan Sehun menggenggam tanganku.

Tapi aku tetap saja berlalu darinya dengan sebuah sapu tangan dan perasaan yang tertinggal di dirinya. Sedikit berharap bahwa sapu tangan itu akan menghubungkan kami berdua.

Tapi aku tahu itu tidak mungkin.

Pertama, Cinderella meninggalkan sebuah sepatu kaca, bukan sebuah sapu tangan bergambar Doraemon. Kedua, Cinderella adalah gadis cantik yang begitu sempurna, sedangkan aku hanyalah gadis buta yang membuat orang tuaku terlalu malu untuk mengizinkanku keluar.

Sapu tanganku tidak akan menjadikan hidupku happily ever after, selayaknya sepatu kaca Cinderella.

END

Advertisements

3 thoughts on “Unfinished Tale (Oneshoot)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s