[FF] The Silence Of Me

TSOM

Title                   : The Silence Of Me

Author                : NandaFM

Rate                  : Teen

Genre                 : Romance

Main Cast           : Im Yoona | Oh Sehun

Enjoy!

**NO PLAGIATOR ALLOWED

Mataku benar-benar terasa berat untuk membuka. Tangisanku semalam rupanya masih meninggalkan jejak. Sembap dan terasa panas. Hal ini mengingatkanku lagi pada malam kemarin. Ketika dengan hebatnya aku menangis sambil menjerit tanpa suara. Aku merasa benar-benar terperosok dan jatuh ke lubang terdalam. Mencari cara dan terus berupaya bangkit tapi pada akhirnya jatuh kembali.

Ku ambil pigura yang kemarin sempat kulempar tanpa menghiraukan pecahan dari kaca yang berserakan di lantai. Dan aku menangis lagi. Melihat gambar seorang laki-laki yang tengah tersenyum manis dan juga gadis di sampingnya yang pula tersenyum tak kalah manis. Mereka berdua saling tersenyum sambil jari yang saling menggenggam. Menggenggam dengan eratnya seolah salah satu dari mereka akan menghilang jika tak digenggam dengan cara seperti itu.

Aku hanya menatap gambaran itu dalam diam dan tak pelak lagi aku menangis. Masa lalu yang indah bagaimana bisa kini berbalik padaku dan menghantamku dengan kesedihan yang mendalam? Seolah-olah aku melempar bumerang yang sepenuhnya membawa kebahagiaan, keindahan, senyuman yang kemudian boomerang itu berbalik lagi menyerangku dengan segala kesedihan yang menghantam hati.

Lalu aku berbalik menuju laci yang letaknya tak begitu jauh dari tempat tidur. Menemukan setumpuk kertas kumal dengan berbagai coretan di atasnya.

***

Flashback

            Pluk.

Untuk yang kesekian kali aku harus memungut kertas lipat berwarna hijau yang memang diarahkan padaku. Ketika kubuka aku mendapati gambaran yang teramat jelek dan tulisan-tulisan tangan yang tak kalah jeleknya.

            Nerd!!! :p

Aku hanya menghela nafas dan menoleh dengan marah pada sang pelaku utama. Laki-laki berperawakan kurus-tinggi yang sedang duduk menyelonjorkan kakinya di atas meja. Menunjukkan ekspresi yang begitu acuh terhadap lingkungan kelas. Dan ketika ia menoleh padaku dan mendapati raut mukaku yang kesal ia hanya menunjukkan ekspresi bertanya sambil menaikkan alisnya sebelah.

Karena kuanggap kertas itu tidak penting sama sekali akhirnya kuputuskan untuk membuangnya. Tapi ketika aku sudah kembali ke tempat duduk, laki-laki itu, Oh Sehun, beranjak dari kursinya dan menghampiriku sambil meletakkan kertas kumal berwarna hijau yang lain di atas mejaku.

“Ini adalah pemberian. Harusnya kau simpan. Bagaimana bisa kau membuangnya tanpa merasa bersalah? Tidakkah kau tahu bahwa itu menyakiti hatiku?” dengan nada yang dibuat-buat dia mengatakannya dan kemudian berlalu dengan senyum miring yang masih terpasang di wajahnya.

Sejak saat itulah Sehun selalu memberiku kertas hijau kumal berisi coretannya tentang diriku yang dengan bodohnya aku mematuhi perintahnya untuk menyimpan kertas itu.

Hingga suatu hari kertas hijau kumal yang biasanya berisi coretan tentangku –nerd, bookworm, dan hal buruk lainnya– berubah. Tidak ada tulisan dan coretan acak yang Sehun tulis untukku. Tepat pada kertasnya yang ke-100 (yah, aku menghitungnya), tulisan di kertas itu berubah menjadi tulisan yang berisi tentang pernyataan cintanya padaku. Meskipun tulisannya masih kaku dan terdapat banyak coretan dari kata-katanya yang salah, aku benar-benar tersentuh dengan hal itu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya.

***

             Kumasukkan lagi kertas itu ke dalam laci dan duduk kembali di atas tempat tidur. Mataku yang kosong tertuju pada topi hitam yang tergantung di gantungan baju di dekat pintu.

***

Flashback

Apakah baik untuk terlambat di saat seperti ini?

Apakah Sehun masih menunggu?

Ah!! Bodohnya aku!! Bagaimana aku bisa ketiduran tadi?!

Pikiran-pikiran itu terus membayangiku selagi aku berlari menuju taman. Perasaan lelah seolah tidak bisa menggapaiku hingga aku terus berlari. Mengabaikan teriknya matahari di hari Minggu yang cerah ini. Berusaha secepatnya sampai di tempat Devan menungguku saat ini.

Ketika aku sampai baru kusadari bahwa aku sudah berlari terlalu jauh. Jarak dari apartemenku dan taman ini tidaklah dekat. Sehingga kelelahan mulai menghampiri dan seolah ingin memelukku agar aku terjatuh dan terlena dalam pelukan dari rasa lelah itu. Tapi hal itu segera kutepis jauh-jauh ketika Devan menghampiriku.

Tatapan intens dari Sehun seolah mengelupas seluruh kulitku. Apakah dia marah? Hanya prasangka buruk yang saat ini ada di pikiranku. Bagaimana tidak? Di kencan pertama saja aku sudah terlambat. Kalau hanya belasan menit itu mungkin masih dapat dimaafkan. Tapi aku sudah terlambat dua jam dari rencana. Seharusnya tadi saat pukul sepuluh pagi aku dan Sehun akan pergi menuju pantai –meskipun aku tidak terlalu suka dengan pantai – tapi karena aku ketiduran aku baru bisa datang pukul dua belas siang.

You’re sweating. A lot.” dengan raut muka serius ia menunjukkan perhatiannya padaku. “Apa kau berlari ke sini? Apa tempatmu jauh dari sini? Kenapa tidak minta kujemput saja?” pertanyaannya yang begitu saja ia lontarkan tidak kujawab seluruhnya. Sebaliknya aku malah terdiam dan menatap lurus padanya.

“Sejujurnya aku tidak terlalu suka pantai” pernyataanku yang sama sekali tidak terkait dengan pertanyaannya keluar begitu saja dari mulutku.

“Tidak apa. Lagipula hari ini panas sekali, akan lebih baik kalau kita berdua main di taman ini saja. Lebih banyak tanaman. Setidaknya dapat menambah sedikit kesejukan.” dengan meletakkan topi hitamnya yang tadi ia pakai di atas kepalaku ia menarik tanganku menuju kursi taman yang terletak tak jauh dari tempat kita berdiri. Ia mengalah untukku untuk yang kesekian kalinya. “Jangan lupa hapuslah keringatmu. Itu sungguh bau” tambahnya tanpa menoleh padaku yang berjalan di belakangnya dengan patuh.

Diam-diam kuhapus keringat ku menggunakan tangan sebelah yang bebas. Kurapatkan topi ini agar masuk sepenuhnya di kepala. Setidaknya topi ini dapat sedikit membantuku dalam menghadapi panasnya matahari di taman yang terbuka ini.

***

Flashback

Rasa bosan sudah mulai menemaniku. Dengan enggan kulihat jam di tangan yang sudah menunjukkan pukul 7 malam. Menyebabkanku marah dan semakin tak sabar. Apa sih yang dia pikirkan sampai bisa datang terlambat? Bagaimana bisa dia membiarkan seorang gadis sepertiku untuk menunggunya? Apa dia tidak memikirkanku? Bagaimana ada manusia seegois dirinya?

Sambil bergumam tidak jelas aku mulai mengomel kepada Sehun meskipun aku tahu ia tidak mungkin mendengarnya. Tapi setidaknya kubiarkan rasa jengkel yang bersarang di benakku untuk keluar, sebelum aku nanti terdiam sepenuhnya ketika sudah bertemu dengannya. Menjadi tertutup menjadi salah satu ciri khasku sejak dulu.

“Kau sudah datang?”

Aku menoleh ke arah suara Sehun yang sudah mulai familiar dengan indra pendengarku. Wajahnya yang penuh keheranan tanpa sebersit perasaan bersalah di sana semakin membuatku jengkel.

“Kau terlambat. Di hari jadi kita yang pertama.” ujarku datar sarat akan amarah.

Untuk beberapa detik saja keseriusan dan penyesalan tampak pada wajahnya. Tapi sekejap saja cengirannya yang kekanakan menggantikan. Mencoba membujukku agar memaafkan kesalahannya.

Kemudian Sehun berdiri di belakangku dan menutup mataku menggunakan satu tangannya. Melihat dari tindakannya aku berpikir bahwa ia akan memberiku kejutan. Aku benar-benar gugup menantinya.

Tapi helaan nafas kecewa kuhembuskan ketika kemudian Sehun melepaskan tangannya. Dan tidak ada apapun yang terjadi. Tidak ada kejutan.

Selanjutnya ketika aku masih bergumul dengan rasa kesalku, Sehun berlari menghampiri seseorang yang secara kebetulan lewat. Meminta tolong untuk mengambil gambar kami berdua. Lalu ia berbalik dan tiba-tiba menggenggam tanganku sambil memberi cengiran ke arah kamera. Sedangkan aku hanya menatap kesal ke arah kamera.

Cklik

Mengetahui bahwa wajahku sama sekali tidak tersenyum Sehun meminta tolong agar seseorang itu mengambil gambar kami berdua untuk yang kedua kalinya. “Bahkan wajah seekor keledai yang tersenyum saat ini lebih indah dari wajah cemberutmu.” Sindirannya sama sekali tak mempan bagiku. Aku tetap tidak tersenyum.

“Senyumlah. Bila kau tidak mampu tersenyum padaku, senyumlah setidaknya pada lensa kamera itu.”

Aku terlonjak mendengar pernyataannya. Menyadari sikapku padanya selama ini. Dingin. Tertutup. Kemudian kubalas genggaman tangannya di jariku dengan erat sambil tersenyum semanis mungkin pada kamera. Menunjukkan bahwa aku menyayanginya.

Cklik

***

            Ketika mataku yang tak fokus sedang mencari objek dalam pandangan, mataku terhenti pada sebuah boneka teddy kecil yang tergeletak begitu saja di atas karpet.

Boneka yang diberikan Sehun secara diam-diam. Ketika ia terlambat di hari jadi kita yang pertama, ketika aku berharap ia sedang memberi kejutan padaku, rupanya pada saat itu ia memasukkan boneka itu ke dalam tas tanganku secara diam-diam. Boneka yang selalu berucap ‘maaf’ setiap kali kutekan perutnya.

Kupejamkan mata berusaha menghalau memori masa lalu. Tidak ingin merasakan kesedihan lagi. Tapi tiba-tiba satu-satunya memori yang paling ingin kuhalau malah menyeruak dalam pikiranku.

***

Flashback

“Yoong?” keheranan jelas terdengar pada suara Sehun. Aku yang kemarin berkata tidak bisa merayakan bersama hari pertambahan usianya, kini aku tiba-tiba ada di tempat yang tak jauh dari rumahnya. Melihat seorang gadis yang sudah terlebih dahulu mengucapkan selamat padanya.

“Kenapa? Kau kaget? Kau tak mengharapkanku datang?”

“Yoong dengar–”

“Apa!? Alasan apa yang akan kaubuat?! Apa kau menganggapku hanya sebagai lelucon?! Apakah hubungan ini hanyalah sebuah permainan bagimu? Kenapa kau seegois ini?! Aku membencimu! Sangat membencimu!”

“Yoong! Tenanglah!”

“Tenang katamu?! Kau berharap aku dapat tenang setelah melihat kau dengannya?!” tunjukku pada gadis lain yang tak jauh dari kami berdua.

“Aku ingin kita berakhir!!” ujarku sambil menarik tanganku darinya. Berlalu meninggalkannya dengan air mata yang berderai.

***

            Kini aku hanya bisa menangis menyesali semua yang telah kulakukan. Sehun adalah satu-satunya seseorang yang mengertiku. Seorang yang menerimaku dengan tangan terbuka. Seseorang yang senantiasa memberi senyumnya pada kegelapan hariku.Tapi aku membuangnya begitu saja dalam hidupku.

Aku benar-benar menyesal. Sungguh menyesal. Seandainya waktu itu aku tidak kehilangan kendali akan diriku sendiri dan menjadi seperti orang kalap…… Seandainya waktu itu aku masih mau dan memberi kesempatan bagi Sehun untuk menjelaskan semuanya…… Seandainya………..

Kuambil handphone yang tergeletak tak jauh dari tempat tidur. Memutuskan apakah sebaiknya aku menelponnya dan meminta agar kita kembali seperti sedia kala. Tapi masih terdapat perasaan malu pada diriku untuk meminta. Tidakkah itu adalah salahnya, mengapa harus aku yang memohon? Seandainya waktu itu ia mampu menahanku dan menghalangiku, tidakkah hal ini tak akan terjadi?

Pikiran dan perasaanku terus bergulat sampai aku dikejutkan dengan nada nyaring dari handphone yang kugenggam. Oh Sehun. Aku begitu gembira mengetahui ia menghubungiku hingga senyumku mengembang seketika. Meskipun begitu aku masih sempat ragu ketika menjawab panggilan darinya.

“…………”

Aku hanya bisa tersenyum mendengar suaranya hingga tak terasa aku menangis. Merasakan segala kerinduan yang seketika membuncah mendengar suaranya yang berkata bahwa ia pun tak bahagia atas keputusanku.

Aku pun hanya bisa berjanji pada diriku sendiri. Aku akan selalu ada di sisinya. Mengatakan apapun yang kurasakan pada dirinya. Tak ingin menutupi apapun dan menghindarinya. Karena aku tak ingin melakukan kesalahan yang sama. Kehilangannya atas kesalah pahaman akibat diamku. Akibat hatiku yang seolah selalu terkunci bahkan untuk Sehun sekalipun.

END

Jangan lupa komentarnya ya guys. Setiap komentar dari kalian semua berarti banget buat author ini yang kalo mau nulis ngumpulinnya moodnya harus nunggu bertahun-tahun dulu 😀

Advertisements

6 thoughts on “[FF] The Silence Of Me

  1. akhirnya happy end….mereka akhirnya kembali kan kak????
    setelah nyesek” dan baper” ria akhirnya aq bisa tersenyum lega karenanya 🙂
    sehun nelfon yoona buat mnta dia kmbali kesisinya kan, butuh sequel nih kak 🙂

    Like

  2. suka ceritanya..👍👏 suka juga posternya.. izin copas poster yaa thor😆😍😂. ditunggu karya lainnya😊

    Like

  3. My favorite pairing….
    Saya suka banget chemistry mereka berdua di fanfiction…
    walaupun sebenarnya ini pasangan second choice saya…
    Tp feelnya dapet…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s